Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Teknologi Informasi
Dosen Pengampu: Ade
Suherman,S.Pd., M.Pd.
Oleh:
U J U D
NIM. 2124120253
Kelas Karyawan 1A
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN
REKREASI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2013
ABSTRAK
UJUD 2124120253. Artikel ini berjudul “Pengaruh External Weight Terhadap Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw”.
Upaya meningkatkan prestasi siswanya di bidang
olahraga, seorang guru haruslah mempunyai wawasan yang luas. Selain pengetahuan
tentang bidang pengajaran olahraga yang digelutinya, juga harus tahu dan
mengerti tentang teori metodologi latihan yang akan mendukung latihan
siswanya/atletnya. Hal ini juga membuktikan bahwa guru olahraga tersebut tahu
akan perkembangan dunia olahraga yang kian hari kian modern dalam bidang
latihan dengan sarana dan prasarana yang mutahir. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh external weight
terhadap kemampuan smash dalam
permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan analisa data, menunjukan
bahwa kelompok A (Eksperimen) diperoleh nilai t-hitung 4,21 lebih besar dari
t-tabel 2,05 pada taraf nyata (
) = 0,05
dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash
dengan external weight memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan
kemampuan smash dalam permainan
sepaktakraw.
Hasil penghitungan uji perbedaan dua rata-rata
(Uji-t) antara kelompok A (Ekserimen) dan kelompok B (Kontrol), diperoleh nilai
t-hitung sebesar 4,29 lebih dari t-tabel 2,05 pada paraf nyata (
) = 0,05
dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash
dengan menggunakan external weight
memberikan pengaruh yang lebih efektif dibandingkan latihan tanpa menggunakan
external wight terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan analisis data, bahwa
kelompok B (Kontrol) diperoleh nilai t-hitung 1,19 lebih kecil dari t-tabel 2,05
pada taraf nyata (
) = 0,05
dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash
tanpa meggunakan external weight
tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Permainan sepaktakraw di
Indonesia merupakan olahraga yang kurang populer dibandingkan dengan cabang
olahraga sepak bola atau voly. Tak heran bila setiap orang, anak-anak tua muda
baik di desa maupun di kota kurang menyenangi sepaktakraw. Walaupun demikian
pihak Departemen Pendidikan Nasional telah memutuskan permainan sepaktakraw
sebagai salah satu materi pelajaran Pendidikan Jasmani, mulai sekolah dasar
sampai sekolah menengah, bahkan sampai perguruan tinggi.
Permainan sepaktakraw sekarang
telah melewati perjalanan panjang dalam proses sejarahnya. Berbagai upaya dari
pihak-pihak terkait terhadap sepaktakraw telah menjadikan sepaktakraw menjadi
olahraga yang memiliki daya tarik seperti permainan olahraga yang sudah
populer. Upaya-upaya perkembangan dan peningkatan mulai dari teknik, fisik,
taktik bermain dan perkembangan mental, peraturan-peraturannya, organisasi dan
roda kompetisi, bahkan sampai sistem pembinaan terus menerus mengalami
peningkatan.
Salah satu faktor yang
menunjang terhadap kemampuan bermain sepaktakraw adalah kemampuan teknik dasar
yang memadai. Teknik dasar dalam permainan sepaktakraw banyak macamnya. Secara
garis besar teknik dasar sepaktakraw menurut Bahar (1997:37) sebagau berikut:
Bagian dari teknik khusus sepaktakraw adalah:
1. Smash
2. Menerima smash (bola pertama)
3. Umpan (hantaran)
4. Smash
5. Blok
Salah satu teknik penguasaan
bola yang harus dikuasai setiap pemain sepaktakraw adalah smash. Teknik smash
merupakan teknik penyerangan yang mematikan, dalam perkembangannya smash
sekarang ini bukan hanya sepakan yang mematikan saja, tetapi sudah menjadi
gerakan yang atraktif dan enak di tonton. Oleh karena itu, teknik smash
penting sekali diajarkan dan dilatih sejak dini. Teknik yang benar terutama
teknik dasar smash/dan teknik khusus dalam permainan sepaktakraw sangat
berperan sekali untuk menenangkan pertandingan.
Peningkatan prestasi cabang
olahraga sepaktakraw, teknik merupakan suatu gerak kerja yang sangat erat
hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi, taktik dan mental. Penguasaan
teknik smash dalam permainan sepaktakraw sangat penting dimiliki oleh
seorang atlet. Setiap pemain sepaktakraw secara sadar harus berusaha untuk
meningkatkan penguasaan teknik dasar dan teknik khusus. Apalagi sekarang ini
sepaktakraw semakin populer di tingkat dunia, hingga selayaknya olahraga
tersebut di pelajari dan dikaji secara mendalam. Daya ledak (power) dan
keseimbangan (balancing) saja yang mesti baik tetapi juga ketepatan
dalam melakukan service dan smash. Kemampuan ini harus dimiliki oleh semua pemain
dikemukakan oleh Chaniago (2002:4).
Mempelajari dan menguasai
teknik dasar untuk seorang pemain sepaktakraw harus selalu dilakukan secara
terus menerus. Bagaimana memainkan bola, menumbuhkan naluri terhadap gerak
bola, semuanya itu harus dapat dikuasai dengan berlatih secara terus menerus
dengan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan dan metode latihan yang baik dan
benar.
Cabang olahraga prestasi,
proses berlatih merupakan suatu hal yang amat penting. Demikian pentingnya
sehingga segala hal yang berkaitan dengan proses berlatih sepaktakraw terutama smash
harus direncanakan dengan baik dan benar. Proses berlatih tidak jauh berbeda
dengan proses pengajaran yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. Hal tersebut
dapat terlihat dari usaha yang tidak henti-hentinya dalam rangka meningkatkan
faktor-faktor yang menunjang atau mempengaruhi prestasi olahraga sepaktakraw
terhadap seseorang atau kelompok.
Metode mengajar atau melatih
memiliki peran sebagai jembatan komunikasi antara guru dan siswa dalam proses
belajar mengajar yang bertujuan untuk mengubah perilaku siswa ke arah
pencapaian tujuan pengajaran. Penggunaan metode yang baik dapat dilihat hasil
yang diperoleh, baik aspek kognitif, apektif, maupun psikomotornya. Pemilihan
penggunaan metode terkait pula dengan lamanya waktu belajar, tenaga, serta
motivasi yang dimiliki siswa.
Metode mengajar yang ingin
penulis teliti berikut ini, adalah Pengaruh External weight terhadap
Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw. Dengan demikian
untuk mengajarkan teknik dasar dengan menggunakan external weight merupakan
salah satu alternatif untuk memudahkan atlet dalam upaya meningkatkan
keterampilan smash. Sampai saat ini belum ada yang mengadakan penelitian
terhadap masalah di atas sesuai dengan penjelasan tersebut, penulis merasa
tertarik untuk meneliti dengan judul artikel, “Pengaruh External weight terhadap
Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw”.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah yang telah penulis uraikan di atas, maka permasalahan yang diajukan
adalah: Adakah pengaruh yang signifikan belajar external weight terhadap
kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw?
BAB II
PENGARUH EXTERNAL WEIGHT TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN SMASH DALAM
PERMAINAN SEPAKTAKRAW
A. Sejarah
Permainan Sepaktakraw
Permainan sepaktakraw dasarnya
dari permainan sepak raga yang dimodifikasi menjadi suatu permainan yang
dipertandingkan. Permainan sepak raga merupakan olahraga tradisional, yaitu
suatu permainan rakyat sejak dulu populer di Indonesia dan di Semenanjung
Malaka mulai dari Myanmar sampai perbatasan Singapura.
Menurut sejarah yang ditulis
secara ringkas oleh Sulaeman (1997:1) bahwa,
Sepaktakraw berawal dari
olahraga tradisional Indonesia, yaitu sepak raga. Semula dimainkan oleh
sekelompok bangsawan kemudian menjadi permainan rakyat. Sepak raga dimainkan 6
atau 9 orang secara, melingkar di suatu tempat terbuka sebagai hiburan dan
pengisi waktu senggang. Beraneka ragam nama jenis permainan sepaktakraw,
seperti di Riau dikenal dengan nama Rago Tinggi, di Bengkulu bernama Cepak, di
Sumatra dan Jambi bernama Sepak Rago, Sulawesi Selatan dengan nama
Marraga-Akraga.
Pendapat lain mengatakan bahwa
sepak raga berasal dari daerah Sulawesi Selatan, karena disana banyak rotan
sebagai bahan baku pembuatan bolanya. Kemudian oleh para pelaut Bugis Makasar
yang terkenal memiliki keberanian mengarungi samudra luas, membawanya ke negeri
lain. Sewaktu berlabuh, sekedar untuk mengisi waktu senggang, mereka bermain
sepak raga. Permainan ini kemudian diikuti penduduk setempat yang akhirnya
berkembang sampai desa-desa, seperti halnya di Sumatera, Kalimantan, Maluku,
dan Irian Jaya.
Sejalan dengan perkembangan
zaman, olahraga sepaktakraw semakin tumbuh dan berkembang di tanah air, dan
diawali pada tahun 1971 kegiatan olahraga sepaktakraw sudah mulai diorganisir
dengan baik dalam satu wadah yang pada waktu itu dikenal dengan PERSERASI atau
Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia.
Olahraga sepaktakraw tidak
hanya berkembang di Indonesia saja tetapi olahraga ini pun telah lama
berkembang di Semenanjung Melayu seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan
Negara Asia Tenggara lainnya. Berdasarkan hasil Kongres I tahun 1986,
organisasi sepaktakraw yang sebelumnya dikenal dengan PERSERASI diubah menjadi
PERSETASI atau Persatuan Sepaktakraw Seluruh Indonesia (Herman Chaniago,
1997:41), serta pada tahun 2006 hasil Kongres di Jakarta PERSETASI diganti lagi
menjadi PSTI (Persatuan Sepak Takraw Indonesia).
Melihat perkembangan olahraga
sepaktakraw di tanah air saat ini, peta kekuatan sudah mulai merata, kalau
dahulu selalu didominir oleh Propinsi Riau dan Sulawesi Selatan, kini telah
muncul persaing-persaing dari kekuatan baru seperti Sulawesi Tengah, Lampung
dan Jawa Tengah.
B. Karakteristik
Permainan Sepaktakraw
Sepaktakraw adalah suatu
permainan yang menggunakan bola yang terbuat dari rotan (takraw), dimainkan di
atas lapangan yang datar berukuran panjang 13,40 m dan lebar 6,10 m. Di tengah-tengah
dibatasi oleh jaring seperti permainan bulutangkis. Pemainnya terdiri dari dua
pihak yang berhadapan, masing-masing terdiri dari 3 (tiga) orang.
Gambar 2.1
Lapangan Sepak Takraw
Dalam permainan ini yang
dipergunakan terutama kaki. Tujuan dari setiap pihak adalah mengembalikan bola
sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau menyebabkan lawan
membuta pelanggaran atau bermain salah.
Sepaktakraw merupakan
permainan kompetitif antara 2 regu, masing-masing regu terdiri dari 3 orang
dengan posisi sebagai tekong, apit kanan dan apit kiri di atas lapangan persis
seluas lapangan bulutangkis. Pada setiap lapangan ada lingkaran servis dan
seperempat lingkaran pada kedua ujung bawah net untuk tempat berdiri apit saat
bola akan diservis.
Tekong adalah pemain belakang (back)
yang berfungsi melakukan servis. Servis dilakukan saat dilambungkan oleh salah
seorang apit (kanan atau kiri). Tekong berperan penting dalam mengatur
serangan, makanya servis harus taktis terarah. Pukulan tekong biasa backspin
(keras menukik kearah baseline) atau upper spin (keras menukik)
atau low spin (lembut, parabola jatuh dekat net di bidang lawan). Bisa
pula dilakukan dengan side spin sehingga bola melaju berputar dengan
arah membelok. Untuk tekong diperlukan tinggi badan dengan tungkai/togok yang
panjang, persendian yang terlatih, ketenangan, kecerdikan membaca lawan dan
mampu membantu pertahanan.
Apit adalah permainan depan
yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder) atau sebagai pemukul (smasher),
biasa juga sebagai penerima bola pertama dan juga blocking. Pemain
depan yang berdiri sebelah kanan disebut apit kanan dan lainnya apit kiri. Apit
ini bertugas juga sebagai pelambung bola kepada tekong untuk diservis.
Lambungan yang baik kemungkinan servis yang baik pula. Untuk itu perlu latihan
yang terus menerus dengan pasangan yang tetap atau dengan yang sudah saling
mengerti antara pemain yang satu dengan yang lainnya. Smasher tak perlu
tinggi tetapi harus gesit, berstamina tinggi dan cerdik. Sedangkan feeder sebagai
blocker memang perlu agak tinggi dan mampu melompat tinggi.
C. Teknik
Dasar Sepaktakraw
Permainan sepaktakraw adalah
suatu permainan yang menyerupai bentuk permainan bola volly dan bulutangkis.
Cara memainkannya dengan memainkan bola dan mengembalikannya ke lapangan lawan
dengan kaki, kepala atau badan asal dalam keadaan memantul. Untuk mengembalikan
bola takraw sebagai tiga kali dengan baik, setiap pemain dituntut untuk
menguasai teknik dasar permainan sepaktakraw.
Bermain sepaktakraw yang baik,
seseorang dituntut untuk mempunyai kemampuan atau keterampilan yang baik.
Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan dasar bermain sepaktakraw. Tanpa
kemampuan itu seseorang tidak akan bisa bermain. Kemampuan yang dimaksud adalah
penguasaan keterampilan-keterampilan teknik dasar bermain sepaktakraw. Menurut
Mohamad (1991:38) sebagai berikut:
1. Menyepak
dan mengawal bola
2. Mengantar
dan menerima bola
3. Membuat
sepakan permulaan (servis)
4. Membuat
libasan atau rejaman
Sedangkan Engkos (1994:210)
mengatakan teknik dasar sepaktakraw terdiri atas:
1. Teknik
menyepak bola
a. Sepak sila, yaitu sepakan dengan menggunakan
kaki bagian dalam.
b. Sepak kuda, yaitu sepakan dengan menggunakan
punggung kaki.
c. Sepakan telapak kaki, yaitu sepakan dengan
menggunakan telapak kaki yang berporos pada kekuatan pergelangan kaki.
2. Teknik
menyundul bola
3. Teknik
menahan bola
Selanjutnya menurut Asril
Bahar (1997:37) bahwa kemampuan bermain sepaktakraw terdiri dari teknik dasar
dan teknik khusus untuk lebih jelasnya dapat kita tampilkan lima buah komponen
teknik khusus dalam permainan sepaktakraw yaitu:
1. Servis;
2. Menerima
servis (bola pertama);
3. Umpan
(hantaran);
4. Smash;
5. Block.
Sedangkan bagian dari teknik
dasar adalah:
1. Untuk sepakan (sepak sila, sepak kura, sepak
cungkil, sepak simpuh/badek);
2. Unsur memaha (kiri-kanan);
3. Unsur kepala.
Menyepak (sepakan) merupakan
gerak yang dominan dalam permainan sepaktakraw. Dapat dikatakan bahwa
keterampilan menyepak itu merupakan ibu dari permainan sepaktakraw karena bola
dimainkan terbanyak dengan kaki, mulai dari permulaan permainan sampai membuta
point atau angka. Diantara kemampuan menyepak atau teknik menyepak itu adalah:
1. Sepak sila adalah menyepak bola dengan
menggunakan kaki bagian dalam. Sepak sila digunakan untuk menerima dan
menimang/menguasai bola, mengumpan antara bola dan untuk menyelamatkan serangan
lawan.
2. Sepak kura adalah sepakan atau menyepak
dengan menggunakan kura kaki atau menyepak dengan punggung kaki. Sepak kura
digunakan untuk memainkan bola yang datangnya rendah dan kencang atau keras,
atau menyelamatkan bola dari serangan lawan, untuk bertahan, mengawal atau
menguasai bola dalam usaha menyelamatkannya.
3. Sepak cungkil adalah sepakan atau menyepak
bola dengan menggunakan jari kaki. Sepak cungkil digunakan untuk mengambil dan
menyelamatkan bola jauh dan rendah datangnya.
4. Sepak tapak atau menapak adalah sepakan atau
menyepak bola dengan menggunakan telapak kaki. Menapak digunakan untuk; smash
ke pihak lawan. Servis dropshot, menaham/memblock smash pihak
lawan, menyelamatkan/ mengambil bola dekat atau di atas net (jaring).
5. Sepak badek adalah menyepak bola dengan
bagian luar atau samping luar. Sepak badek ini dapat disebut sepak simpuh.
Dikatakan sepak simpuh oleh karena menyepak bola sama seperti sikap bersimpuh.
Sepak badek digunakan untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan,
menyelamatkan bola dari smash lawan dan untuk mengontrol atau menguasai
bola dalam usaha penyelamatan.
6. Servis atau sepak mula merupakan awal dari
permainan sepaktakraw. Sepaktakraw dilakukan oleh tekong kearah lapangan lawan
dan merupakan cara kerja yang penting, karena point atau angka dapat diperoleh
oleh regu yang melakukannya. Kesalahan atau kegagalan dalam melakukan servis
berarti hilangnya kesempatan bagi regu itu untuk mendapatkan angka.
7. Block atau menahan adalah salah satu
dari beberapa cara gerak kerja bertahan. Block yang baik dapat menahan
bola smash dan kembali ke lapangan lawan. Block dapat dilakukan
dengan tungkai kaki, atau dengan punggung badan.
8. Menyundul (heading) bola dengan kepala
dapat digunakan untuk bertahan, mengoper kepada teman, dan melakukan smash
ke pertahanan lawan, menyundul bola dapat dilakukan dengan sikap berdiri di
tempat atau dengan melompat.
9. Memaha adalah memainkan bola dengan paha
dalam usaha mengontrol bola. Memaha dapat digunakan untuk menahan dan menerima
bola dari serangan lawan, atau untuk membentuk dan menyusun serangan.
10. Mendada adalah memainkan bola dengan dada,
mendada dapat digunakan untuk mengontrol bola.
11. Membahu adalah memainkan bola dengan bagian
badan antara batas lengan dengan leher, dalam usaha mempertahankan serangan
dari pihak lawan. Membahu digunakan untuk bertahan dari serangan lawan yang
mendadak (tiba-tiba) dimana pihak bertahan dalam keadaan terdesak dan dalam
posisi yang kurang baik.
12. Smash adalah bentuk serangan yang
mematikan dilakukan di atas net. Smash dalam permainan sepaktakraw
merupakan teknik efektif dalam melakukan serangan terhadap pihak lawan,
sehingga lawan tidak mampu untuk mengembalikannya.
Berpedoman dari uraian di
atas, maka penguasaan teknik dasar dan teknik khusus dalam permainan
sepaktakraw mutlak dimiliki oleh seorang pemain sepaktakraw, mangingat jenis
olahraga ini membutuhkan permainan yang cepat, waktu memainkan bola sangat
terbatas, sehingga teknik yang tidak sempurna akan memperoleh kesalahan yang
lebih besar.
Berdasarkan uraian di atas,
ternyata usaha untuk mencapai permainan yang sempurna dan mengharapkan kemajuan
dari unsur teknik dasar dan teknik khusus yang baik, maka jalan keluarnya
adalah melakukan kegiatan latihan yang kontinyu dan benar, karena latihan
teknik yang dilakukan secara terus menerus akan berpengaruh sekali terhadap
aspek fisiologis secara menyeluruh, seperti peningkatan otot, perbaikan teknik
dan menciptakan efisiensi dan efektivitas gerakan yang dilakukan.
D. Proses
Belajar Mengajar Sepaktakraw
Prosedur belajar mengajar
olahraga sepaktakraw tak dapat dipisahkan dengan proses belajar. Telah banyak
pembahasan tentang pengertian belajar, khususnya dalam keterampilan berolahraga
sebagai konsep tak terpisahkan dengan pokok-pokok istilah belajar, maka perlu
juga dibahas tentang pengertian belajar menurut Rusli Lutan (1988:101)
Belajar merupakan taraf
perubahan perilaku dalam keterampilan gerak seseorang, atau penguasaan gerakan
yang kompleks tidak terjadi begitu saja, melainkan dengan melalui proses
pengajaran, dimana proses merupakan kegiatan yang inti dan utama. Artinya bahwa
pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses belajar yang
dialami oleh siswa sebagai anak didik.
Para ahli di bidang pendidikan
dan psikologi telah memberikan makna tentang belajar sesuai dengan bidangnya
masing-masing, antara lain Nasution (1986:39) menjelaskan bahwa belajar sebagai
perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan.
Sedangkan Rusli Lutan
(1988:101) mengatakan, “Belajar dapat diartikan semacam seperangkat peristiwa,
kejadian, atau perubahan yang terjadi apabila seseorang berlatih yang
memungkinkan mereka semakin terampil dalam melaksanakan suatu kegiatan”.
Belajar menurut Damiri (1992:52) yaitu, “Suatu proses yang dilakukan oleh
seseorang atau seorang anak untuk meningkatkan atau mengembangkan kognitif,
afektif, dan psikomotornya dirinya”.
Menyimak beberapa pendapat
para ahli tentang belajar tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa belajar
merupakan perubahan perilaku yang relatif menetap, hal ini terjadi akibat
latihan dan pengalaman belajar. Agar perilaku seseorang yang sedang belajar
bersifat positif, maka segala pengalaman dan latihan yang dikondisikan baginya
perlu diorganisasikan secara sengaja dan terencana. Usaha untuk
mengorganisasikan pengalaman dan pelatihan tersebut sering dikatakan dengan
istilah usaha mengajar. Berapa ahli memberikan pengertian tentang mengajar,
namun secara umum kita memberikan makna bahwa guru dan murid berada dalam
proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengajar dan murid atau atlet
sebagai subyek yang sedang menjalani proses belajar.
Pengertian belajar telah
dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas. Namun pengertian pengajar belum jelas.
Dalam hal ini Nasution (1986:8) mengtakan:
a. Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak
b. Menyampaikan kebudayaan pada anak
c. Suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan
sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses
belajar.
Pendapat lain tentang mengajar
dikemukakan oleh Damiri (1992:14) yaitu sebagai berikut:
Mengajar adalah suatu proses
yang dilakukan seorang/guru atau kelompok orang/guru dalam rangka membantu
meningkatkan atau mengembangkan kognitif, sikap, psikomotor para siswa. Proses
yang dimaksud adalah kegiatan yang bersifat mendidik, membina, membimbing,
membantu dan mengarahkan.
Berdasarkan pengertian
tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mengajar pada dasarnya merupakan
upaya menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar
sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Disini siswa akif
belajar, sedangkan guru hanya membimbing, menunjukan jalan yang dihubungkan
dengan kepribadian anak, serta membantu mengembangkan pengalaman dari aktifitas
anak melalui perubahan situasi tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Rusli Lutan (1988:382)
berpendapat bahwa
Mengajar dan melatih pada
hakekatnya memiliki arti yang sama, perbedaannya terletak pada situasi, yaitu
biasanya istilah mengajar dipakai dilingkungan sekolah dalam proses belajar
mengajar olahraga pendidikan dan melatih biasanya dipakai dalam proses
pembinaan olahraga prestasi.
Lebih lanjut Rusli Lutan
(1988:382) mengemukakan tentang unsur-unsur pokok yang terdapat dalam proses
belajar mengajar yaitu:
(1) Guru atau pelatih yang
lebih berpengetahuan, pengalaman, dan terampil, (2) Siswa atau atlet yang
sedang berkembang, (3) Informasi atau keterampilan, (4) Saluran atau metode
penyampaian informasi/keterampilan, dan (respon) atau perubahan perilaku pada
siswa/atlet.
Jadi, dasarnya kegiatan
mengajar atau melatih merupakan seperangkat usaha dalam mengelola pengalaman
belajar dan perilaku siswa dengan maksud agar para siswa dengan maksud agar
para siswa aktif melaksanakan tugas-tugas sehingga terjadi perubahan. Dalam
kegiatan olahraga, keaktifan para pelakunya akan nampak jelas teramati,
misalnya dari jumlah frekuensi dan intensitas kerjanya.
Berdasarkan uraian tersebut di
atas, maka dapat dikatakan bahwa hasil langsung yang utama dari belajar
mengajar gerak yaitu utama dari belajar mengajar gerak yaitu perubahan perilaku
yang bersifat psikomotor yang dapat ditafsirkan dari perubahan dalam penguasaan
suatu keterampilan olahraga. Selanjutnya produk pengiringnya berhubungan dengan
perubahan perilaku dari ketiga unsur tersebut berlangsung dalam kondisi
internal secara utuh, artinya meskipun tekanan belajarnya adalah penguasaan
suatu keterampilan gerak, tidak berarti unsur-unsur lain seperti domain afektif
dan kognitif diabaikan.
E. Pengaruh External Weight terhadap
Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw
Usaha meningkatkan prestasi
cabang olahraga sepaktakraw, teknik merupakan suatu gerak kerja yang erat
hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Dengan
banyaknya kontribusi gerakan di dalam aktifitasnya akan berpengaruh terhadap
hasil yang dicapai melalui proses latihan untuk mendapatkan teknik yang
sempurna. Usaha meraih prestasi olahraga tidak terlepas dari penguasaan teknik
yang baik dan benar terutama teknik dasar dan teknik khusus dalam permainan
sepaktakraw.
Penguasaan teknik dalam
permainan sepaktakraw sangat penting dimiliki oleh seorang atlet mengingat
permainan tersebut komplit sekali dengan kemampuan gerak, dan ini diakui oleh
para pembina olahraga lain termasuk atlet sepaktakraw sendiri. Disini juga dilakukan
gerakan-gerakan akrobatik dan berbahaya, diiringi pula unsur-unsur kecepatan,
keluwesan, kelincahan, kekuatan, daya tahan dan eksplosive power.
Menurut Charsian Anwar
(1999:24) menjelaskan, “Agar dapat menghasilkan smash yang akurat dan
tajam, awalan, tolakan, sikap posisi badan saat melayang di atas dan sikap
badan saat mendarat sangat penting untuk diperhatikan pada saat berlatih”. Smash
dalam permainan sepaktakraw terdiri dari beberapa macam bantuk; smash
gulung (salto), smash kedeng, smash gunting, smash lurus,
dan smash telapak kaki.
1. Smash Gulung
a. Saat Awalan
Awalan
harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah
datangnya bola yang akan disepak (smash).
b. Saat Tolakan
Tolakan
harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian
segera diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agak ke
bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas secara eksplosif dengan
bantuan kedua lengan.
c. Saat Badan di Atas (Saat Smash)
Setelah
menolakan kaki ke atas secara eksplosif dengan bantuan kedua lengan,
badan berputar (berguling ke belakang) diikuti dengan kaki tumpu ditarik ke
atas menjemput bola yang akan dipukul (smash). Smash dilakukan dengan
punggung kaki.
d. Saat Mendarat
Setelah
melakukan pukulan (smash), kepala, badan dan tungkai berputar ke
belakang bawah, dan mendarat dengan kedua kaki:
Gambar 2.2
Smash Gulung
2. Smash Kedeng
a. Saat Awalan
Awalan
harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah
datangnya bola yang akan disepak (smash).
b. Saat Tolakan
Tolakan
harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian
diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agar dalam ke
bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas bagian dalam secara eksplosif
dengan bantuan kedua lengan.
c. Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah
menolakan kaki ke arah atas secara eksplosif, luruskan tungkai serta
putar badan (pinggul, punggung, bahu) ke arah dalam, kemudian lakukan smash
dengan punggung kaki atau punggung kaki bagian luar, dibantu dengan putaran
pinggul dan punggung.
d. Saat Mendarat
Gerak
ikutan dimulai dari tungkai, punggung, bahu dan lengan secara bersamaan
berputar ke arah luar, kemudian tungkai ditarik ke bawah dan mendarat dengan
kedua kaki dalam posisi siap
.
Gambar 2.3
Smash Kedeng
3. Smash Lurus
a. Saat Awalan
Awalan
harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah
datangnya bola yang akan disepak (smash).
b. Saat Tolakan
Tolakan
harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian
segera diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agak ke
bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas secara eksplosif dengan bantuan
kedua lengan.
c. Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah
menolakan kaki ke atas secara eksplosif, secepatnya kaki tumpu menjemput
bola, kemudian melakukan smash dengan punggung kaki.
d. Saat Mendarat
Setelah
melakukan pukulan (smash), tungkai diturunkan ke bawah dan mendarat
dengan kedua kaki.
Gambar 2.4
Smash Lurus
4. Smash Telapak Kaki
a. Saat Awalan
Awalan
harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah
datangnya bola yang akan disepak (smash).
b. Saat Tolakan
Tolakan
dapat dilakukan dengan salah satu kaki tumpu dan kaki lainnya melakukan smash.
Tolakan kaki tumpu juga sebagai kaki yang dipergunakan untuk membantu melakukan
smash.
c. Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah
menolakan kaki ke atas secara eksplosif, badan tetap tegak lurus dan
kaki yang hendak melakukan smash dengan cepat menjemput bola. Kemudian
dengan telapak kaki yang dibantu lecutan dari pergelangan kaki, bola disepak (smash).
d. Saat Mendarat
Setelah
melakukan pukulan (smash), kepala, badan dan tungkai berputar ke
belakang bawah, dan mendarat dengan kedua kaki.
Gambar 2.5
Smash Telapak Kaki
Melihat kemungkinan-kemungkinan
seperti disebutkan di atas, maka setiap pemain sepaktakraw secara sadar harus
berusaha untuk meingkatkan penguasaan teknik dasar dan teknik khusus, apalagi
sepaktakraw semakin populer, hingga selayaknya olahraga tersebut dipelajari dan
dikaji secara mendalam.
Sesuai dengan permasalahan
inti dari penelitian ini, penulis akan memfokuskan kepada latihan kemampuan smash
dengan menggunakan external weight, dengan menggunakan alat bantu berupa
rompi yang berisi beban dengan ukuran beban yang akan dinaikan setahap demi
setahap, dari beban yang paling rendah sampai beban yang maksimal.
Teknik pelaksanaannya adalah
dengan cara naik turun pada balok yang telah disediakan yang berukuran 50 cm (step-up).
Pertama-tama atlet berdiri di bawah balok yang telah disediakan, setelah
mendengar aba-aba atau peluit baru testee melakukan step-up
sebanyak-banyaknya dalam waktu 30 detik dengan beberapa kali pengulangan.
Berdasarkan hasil penghitungan
uji-t pada kelompok A (eksperimen) diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,21 yang
lebih besar dari nilai t-tabel pada taraf nyata (a) 0,05 dengan derajat
kebebasan (dk) = 28 diperoleh sebesar 2,05. Dengan demikian hipotesis nol
ditolak, artinya latihan smash dengan menggunakan external weight
menunjukan adanya peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan smash
dalam permainan sepaktakraw.
Demikian juga hasil
penghitungan uji-t pada kelompok B (kontrol) diperoleh nilai t-hitung sebesar
1,19 yang lebih kecil dari nilai t-tabel pada taraf nyata (a) 0,05 dengan
derajat kebebasan (dk) 28 diperoleh sebesar 2,05. Dengan demikian hipotesis nol
diterima, artinya latihan smash tanpa menggunakan external weight tidak menunjukan adanya
peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan smash dalam permainan
sepaktakraw.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis
data yang penulis kemukakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: latihan
smash dengan menggunakan external weight
terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan uji
perbedaan dua rata-rata (Uji-t) antara kelompok A (Ekserimen) dan kelompok B
(Kontrol), diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,29 lebih dari t-tabel 2,05 pada
paraf nyata (
) = 0,05
dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash
dengan menggunakan external weight
memberikan pengaruh yang lebih efektif dibandingkan latihan tanpa menggunakan
external wight terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan
analisis data, bahwa kelompok B (Kontrol) diperoleh nilai t-hitung 1,19 lebih
kecil dari t-tabel 2,05 pada taraf nyata (
) = 0,05
dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash
tanpa meggunakan external weight
tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 1998. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Asril Bahar. 1997. Teknik
Dasar dan Teknik Khusus Dalam Permainan Sepaktakraw. Jakarta : PB. Persetasi.
Charsian, Anwar. 1999. Mari Bermain Sepaktakraw. Jakarta : PB.
Persetasi.
Engkos Kosasih. 1994. Olahraga Teknik dan Program
Latihan. Semarang : Akademik Presindo.
Harsono. 1988. Coaching
dan Aspek-aspek Psikologis dalam Choaching. Jakarta : CV. Tambak Kusumah.
Herman, Chaniago. 1997. Pendekatan
Ilmiah Dalam Pembinaan Sepaktakraw. Jakarta : Dirjen PLSPO.
Mohamad. 1991. Olahraga
Pilihan Sepaktakraw. Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi Dipdikbud.
Muslim, Deni. 1999. Sepaktakraw. Jakarta : PB. Persetasi.
Nasution. 1987. Metode Research, Penelitian Ilmiah. Bandung : PT.
Jemars.
Poerwadarminta, W.J.S.
1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN. Balai Pustaka.
Sudjana. 1992. Metode
Statistika. Bandung : Tarsito.
Surakhmad, Winarno. 1990. Dasar
dan Teknik, Reserch, Pengantar Metode Ilmiah. Bandung : Tarsito.
Yusup, Ucup. dkk. 2001. Pembelajaran
Permainan Sepaktakraw, Pendekatan Keterampilan Taktis. Jakarta : Depdiknas.