Minggu, 23 Juni 2013

Atikel : “Pengaruh External Weight Terhadap Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw”.



TUGAS ARTIKEL


Disusun untuk Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Teknologi Informasi

Dosen Pengampu: Ade Suherman,S.Pd., M.Pd.
















Oleh:
U J U D
NIM. 2124120253
Kelas Karyawan 1A










PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JASMANI KESEHATAN DAN REKREASI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS GALUH CIAMIS
2013



ABSTRAK


UJUD 2124120253. Artikel ini berjudul “Pengaruh External Weight Terhadap Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw”.

Upaya meningkatkan prestasi siswanya di bidang olahraga, seorang guru haruslah mempunyai wawasan yang luas. Selain pengetahuan tentang bidang pengajaran olahraga yang digelutinya, juga harus tahu dan mengerti tentang teori metodologi latihan yang akan mendukung latihan siswanya/atletnya. Hal ini juga membuktikan bahwa guru olahraga tersebut tahu akan perkembangan dunia olahraga yang kian hari kian modern dalam bidang latihan dengan sarana dan prasarana yang mutahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh external weight terhadap kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan analisa data, menunjukan bahwa kelompok A (Eksperimen) diperoleh nilai t-hitung 4,21 lebih besar dari t-tabel 2,05 pada taraf nyata ( ) = 0,05 dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash dengan external weight memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan uji perbedaan dua rata-rata (Uji-t) antara kelompok A (Ekserimen) dan kelompok B (Kontrol), diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,29 lebih dari t-tabel 2,05 pada paraf nyata ( ) = 0,05 dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash dengan menggunakan external weight memberikan pengaruh yang lebih efektif dibandingkan latihan tanpa menggunakan external wight terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan analisis data, bahwa kelompok B (Kontrol) diperoleh nilai t-hitung 1,19 lebih kecil dari t-tabel 2,05 pada taraf nyata ( ) = 0,05 dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash tanpa meggunakan external weight tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Permainan sepaktakraw di Indonesia merupakan olahraga yang kurang populer dibandingkan dengan cabang olahraga sepak bola atau voly. Tak heran bila setiap orang, anak-anak tua muda baik di desa maupun di kota kurang menyenangi sepaktakraw. Walaupun demikian pihak Departemen Pendidikan Nasional telah memutuskan permainan sepaktakraw sebagai salah satu materi pelajaran Pendidikan Jasmani, mulai sekolah dasar sampai sekolah menengah, bahkan sampai perguruan tinggi.
Permainan sepaktakraw sekarang telah melewati perjalanan panjang dalam proses sejarahnya. Berbagai upaya dari pihak-pihak terkait terhadap sepaktakraw telah menjadikan sepaktakraw menjadi olahraga yang memiliki daya tarik seperti permainan olahraga yang sudah populer. Upaya-upaya perkembangan dan peningkatan mulai dari teknik, fisik, taktik bermain dan perkembangan mental, peraturan-peraturannya, organisasi dan roda kompetisi, bahkan sampai sistem pembinaan terus menerus mengalami peningkatan.
Salah satu faktor yang menunjang terhadap kemampuan bermain sepaktakraw adalah kemampuan teknik dasar yang memadai. Teknik dasar dalam permainan sepaktakraw banyak macamnya. Secara garis besar teknik dasar sepaktakraw menurut Bahar (1997:37) sebagau berikut:

Bagian dari teknik khusus sepaktakraw adalah:
1.   Smash
2.   Menerima smash (bola pertama)
3.   Umpan (hantaran)
4.   Smash
5.   Blok

Salah satu teknik penguasaan bola yang harus dikuasai setiap pemain sepaktakraw adalah smash. Teknik smash merupakan teknik penyerangan yang mematikan, dalam perkembangannya smash sekarang ini bukan hanya sepakan yang mematikan saja, tetapi sudah menjadi gerakan yang atraktif dan enak di tonton. Oleh karena itu, teknik smash penting sekali diajarkan dan dilatih sejak dini. Teknik yang benar terutama teknik dasar smash/dan teknik khusus dalam permainan sepaktakraw sangat berperan sekali untuk menenangkan pertandingan.
Peningkatan prestasi cabang olahraga sepaktakraw, teknik merupakan suatu gerak kerja yang sangat erat hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi, taktik dan mental. Penguasaan teknik smash dalam permainan sepaktakraw sangat penting dimiliki oleh seorang atlet. Setiap pemain sepaktakraw secara sadar harus berusaha untuk meningkatkan penguasaan teknik dasar dan teknik khusus. Apalagi sekarang ini sepaktakraw semakin populer di tingkat dunia, hingga selayaknya olahraga tersebut di pelajari dan dikaji secara mendalam. Daya ledak (power) dan keseimbangan (balancing) saja yang mesti baik tetapi juga ketepatan dalam melakukan service dan smash. Kemampuan ini harus dimiliki oleh semua pemain dikemukakan oleh Chaniago (2002:4).
Mempelajari dan menguasai teknik dasar untuk seorang pemain sepaktakraw harus selalu dilakukan secara terus menerus. Bagaimana memainkan bola, menumbuhkan naluri terhadap gerak bola, semuanya itu harus dapat dikuasai dengan berlatih secara terus menerus dengan berpedoman pada prinsip-prinsip latihan dan metode latihan yang baik dan benar.
Cabang olahraga prestasi, proses berlatih merupakan suatu hal yang amat penting. Demikian pentingnya sehingga segala hal yang berkaitan dengan proses berlatih sepaktakraw terutama smash harus direncanakan dengan baik dan benar. Proses berlatih tidak jauh berbeda dengan proses pengajaran yang mempunyai ciri-ciri tersendiri. Hal tersebut dapat terlihat dari usaha yang tidak henti-hentinya dalam rangka meningkatkan faktor-faktor yang menunjang atau mempengaruhi prestasi olahraga sepaktakraw terhadap seseorang atau kelompok.
Metode mengajar atau melatih memiliki peran sebagai jembatan komunikasi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang bertujuan untuk mengubah perilaku siswa ke arah pencapaian tujuan pengajaran. Penggunaan metode yang baik dapat dilihat hasil yang diperoleh, baik aspek kognitif, apektif, maupun psikomotornya. Pemilihan penggunaan metode terkait pula dengan lamanya waktu belajar, tenaga, serta motivasi yang dimiliki siswa.
Metode mengajar yang ingin penulis teliti berikut ini, adalah Pengaruh External weight terhadap Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw. Dengan demikian untuk mengajarkan teknik dasar dengan menggunakan external weight merupakan salah satu alternatif untuk memudahkan atlet dalam upaya meningkatkan keterampilan smash. Sampai saat ini belum ada yang mengadakan penelitian terhadap masalah di atas sesuai dengan penjelasan tersebut, penulis merasa tertarik untuk meneliti dengan judul artikel, “Pengaruh External weight terhadap Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan di atas, maka permasalahan yang diajukan adalah: Adakah pengaruh yang signifikan belajar external weight terhadap kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw?


BAB II
PENGARUH EXTERNAL WEIGHT TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SMASH DALAM PERMAINAN SEPAKTAKRAW

A.  Sejarah Permainan Sepaktakraw
Permainan sepaktakraw dasarnya dari permainan sepak raga yang dimodifikasi menjadi suatu permainan yang dipertandingkan. Permainan sepak raga merupakan olahraga tradisional, yaitu suatu permainan rakyat sejak dulu populer di Indonesia dan di Semenanjung Malaka mulai dari Myanmar sampai perbatasan Singapura.
Menurut sejarah yang ditulis secara ringkas oleh Sulaeman (1997:1) bahwa,

Sepaktakraw berawal dari olahraga tradisional Indonesia, yaitu sepak raga. Semula dimainkan oleh sekelompok bangsawan kemudian menjadi permainan rakyat. Sepak raga dimainkan 6 atau 9 orang secara, melingkar di suatu tempat terbuka sebagai hiburan dan pengisi waktu senggang. Beraneka ragam nama jenis permainan sepaktakraw, seperti di Riau dikenal dengan nama Rago Tinggi, di Bengkulu bernama Cepak, di Sumatra dan Jambi bernama Sepak Rago, Sulawesi Selatan dengan nama Marraga-Akraga.

Pendapat lain mengatakan bahwa sepak raga berasal dari daerah Sulawesi Selatan, karena disana banyak rotan sebagai bahan baku pembuatan bolanya. Kemudian oleh para pelaut Bugis Makasar yang terkenal memiliki keberanian mengarungi samudra luas, membawanya ke negeri lain. Sewaktu berlabuh, sekedar untuk mengisi waktu senggang, mereka bermain sepak raga. Permainan ini kemudian diikuti penduduk setempat yang akhirnya berkembang sampai desa-desa, seperti halnya di Sumatera, Kalimantan, Maluku, dan Irian Jaya.
Sejalan dengan perkembangan zaman, olahraga sepaktakraw semakin tumbuh dan berkembang di tanah air, dan diawali pada tahun 1971 kegiatan olahraga sepaktakraw sudah mulai diorganisir dengan baik dalam satu wadah yang pada waktu itu dikenal dengan PERSERASI atau Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia.
Olahraga sepaktakraw tidak hanya berkembang di Indonesia saja tetapi olahraga ini pun telah lama berkembang di Semenanjung Melayu seperti Malaysia, Thailand, Singapura dan Negara Asia Tenggara lainnya. Berdasarkan hasil Kongres I tahun 1986, organisasi sepaktakraw yang sebelumnya dikenal dengan PERSERASI diubah menjadi PERSETASI atau Persatuan Sepaktakraw Seluruh Indonesia (Herman Chaniago, 1997:41), serta pada tahun 2006 hasil Kongres di Jakarta PERSETASI diganti lagi menjadi PSTI (Persatuan Sepak Takraw Indonesia).
Melihat perkembangan olahraga sepaktakraw di tanah air saat ini, peta kekuatan sudah mulai merata, kalau dahulu selalu didominir oleh Propinsi Riau dan Sulawesi Selatan, kini telah muncul persaing-persaing dari kekuatan baru seperti Sulawesi Tengah, Lampung dan Jawa Tengah.

B.  Karakteristik Permainan Sepaktakraw
Sepaktakraw adalah suatu permainan yang menggunakan bola yang terbuat dari rotan (takraw), dimainkan di atas lapangan yang datar berukuran panjang 13,40 m dan lebar 6,10 m. Di tengah-tengah dibatasi oleh jaring seperti permainan bulutangkis. Pemainnya terdiri dari dua pihak yang berhadapan, masing-masing terdiri dari 3 (tiga) orang.
 
Gambar 2.1
Lapangan Sepak Takraw
Dalam permainan ini yang dipergunakan terutama kaki. Tujuan dari setiap pihak adalah mengembalikan bola sedemikian rupa sehingga dapat jatuh di lapangan lawan atau menyebabkan lawan membuta pelanggaran atau bermain salah.
Sepaktakraw merupakan permainan kompetitif antara 2 regu, masing-masing regu terdiri dari 3 orang dengan posisi sebagai tekong, apit kanan dan apit kiri di atas lapangan persis seluas lapangan bulutangkis. Pada setiap lapangan ada lingkaran servis dan seperempat lingkaran pada kedua ujung bawah net untuk tempat berdiri apit saat bola akan diservis.
Tekong adalah pemain belakang (back) yang berfungsi melakukan servis. Servis dilakukan saat dilambungkan oleh salah seorang apit (kanan atau kiri). Tekong berperan penting dalam mengatur serangan, makanya servis harus taktis terarah. Pukulan tekong biasa backspin (keras menukik kearah baseline) atau upper spin (keras menukik) atau low spin (lembut, parabola jatuh dekat net di bidang lawan). Bisa pula dilakukan dengan side spin sehingga bola melaju berputar dengan arah membelok. Untuk tekong diperlukan tinggi badan dengan tungkai/togok yang panjang, persendian yang terlatih, ketenangan, kecerdikan membaca lawan dan mampu membantu pertahanan.
Apit adalah permainan depan yang berfungsi sebagai pengumpan (feeder) atau sebagai pemukul (smasher), biasa juga sebagai penerima bola pertama dan juga blocking. Pemain depan yang berdiri sebelah kanan disebut apit kanan dan lainnya apit kiri. Apit ini bertugas juga sebagai pelambung bola kepada tekong untuk diservis. Lambungan yang baik kemungkinan servis yang baik pula. Untuk itu perlu latihan yang terus menerus dengan pasangan yang tetap atau dengan yang sudah saling mengerti antara pemain yang satu dengan yang lainnya. Smasher tak perlu tinggi tetapi harus gesit, berstamina tinggi dan cerdik. Sedangkan feeder sebagai blocker memang perlu agak tinggi dan mampu melompat tinggi.

C.  Teknik Dasar Sepaktakraw
Permainan sepaktakraw adalah suatu permainan yang menyerupai bentuk permainan bola volly dan bulutangkis. Cara memainkannya dengan memainkan bola dan mengembalikannya ke lapangan lawan dengan kaki, kepala atau badan asal dalam keadaan memantul. Untuk mengembalikan bola takraw sebagai tiga kali dengan baik, setiap pemain dituntut untuk menguasai teknik dasar permainan sepaktakraw.
Bermain sepaktakraw yang baik, seseorang dituntut untuk mempunyai kemampuan atau keterampilan yang baik. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan dasar bermain sepaktakraw. Tanpa kemampuan itu seseorang tidak akan bisa bermain. Kemampuan yang dimaksud adalah penguasaan keterampilan-keterampilan teknik dasar bermain sepaktakraw. Menurut Mohamad (1991:38) sebagai berikut:
1.   Menyepak dan mengawal bola
2.   Mengantar dan menerima bola
3.   Membuat sepakan permulaan (servis)
4.   Membuat libasan atau rejaman


Sedangkan Engkos (1994:210) mengatakan teknik dasar sepaktakraw terdiri atas:

1.   Teknik menyepak bola
a.   Sepak sila, yaitu sepakan dengan menggunakan kaki bagian dalam.
b.   Sepak kuda, yaitu sepakan dengan menggunakan punggung kaki.
c.   Sepakan telapak kaki, yaitu sepakan dengan menggunakan telapak kaki yang berporos pada kekuatan pergelangan kaki.
2.   Teknik menyundul bola
3.   Teknik menahan bola


Selanjutnya menurut Asril Bahar (1997:37) bahwa kemampuan bermain sepaktakraw terdiri dari teknik dasar dan teknik khusus untuk lebih jelasnya dapat kita tampilkan lima buah komponen teknik khusus dalam permainan sepaktakraw yaitu:

1.   Servis;
2.   Menerima servis (bola pertama);
3.   Umpan (hantaran);
4.   Smash;
5.   Block.

Sedangkan bagian dari teknik dasar adalah:

1.   Untuk sepakan (sepak sila, sepak kura, sepak cungkil, sepak simpuh/badek);
2.   Unsur memaha (kiri-kanan);
3.   Unsur kepala.

Menyepak (sepakan) merupakan gerak yang dominan dalam permainan sepaktakraw. Dapat dikatakan bahwa keterampilan menyepak itu merupakan ibu dari permainan sepaktakraw karena bola dimainkan terbanyak dengan kaki, mulai dari permulaan permainan sampai membuta point atau angka. Diantara kemampuan menyepak atau teknik menyepak itu adalah:
1.   Sepak sila adalah menyepak bola dengan menggunakan kaki bagian dalam. Sepak sila digunakan untuk menerima dan menimang/menguasai bola, mengumpan antara bola dan untuk menyelamatkan serangan lawan.
2.   Sepak kura adalah sepakan atau menyepak dengan menggunakan kura kaki atau menyepak dengan punggung kaki. Sepak kura digunakan untuk memainkan bola yang datangnya rendah dan kencang atau keras, atau menyelamatkan bola dari serangan lawan, untuk bertahan, mengawal atau menguasai bola dalam usaha menyelamatkannya.
3.   Sepak cungkil adalah sepakan atau menyepak bola dengan menggunakan jari kaki. Sepak cungkil digunakan untuk mengambil dan menyelamatkan bola jauh dan rendah datangnya.
4.   Sepak tapak atau menapak adalah sepakan atau menyepak bola dengan menggunakan telapak kaki. Menapak digunakan untuk; smash ke pihak lawan. Servis dropshot, menaham/memblock smash pihak lawan, menyelamatkan/ mengambil bola dekat atau di atas net (jaring).
5.   Sepak badek adalah menyepak bola dengan bagian luar atau samping luar. Sepak badek ini dapat disebut sepak simpuh. Dikatakan sepak simpuh oleh karena menyepak bola sama seperti sikap bersimpuh. Sepak badek digunakan untuk menyelamatkan bola dari serangan lawan, menyelamatkan bola dari smash lawan dan untuk mengontrol atau menguasai bola dalam usaha penyelamatan.
6.   Servis atau sepak mula merupakan awal dari permainan sepaktakraw. Sepaktakraw dilakukan oleh tekong kearah lapangan lawan dan merupakan cara kerja yang penting, karena point atau angka dapat diperoleh oleh regu yang melakukannya. Kesalahan atau kegagalan dalam melakukan servis berarti hilangnya kesempatan bagi regu itu untuk mendapatkan angka.
7.   Block atau menahan adalah salah satu dari beberapa cara gerak kerja bertahan. Block yang baik dapat menahan bola smash dan kembali ke lapangan lawan. Block dapat dilakukan dengan tungkai kaki, atau dengan punggung badan.
8.   Menyundul (heading) bola dengan kepala dapat digunakan untuk bertahan, mengoper kepada teman, dan melakukan smash ke pertahanan lawan, menyundul bola dapat dilakukan dengan sikap berdiri di tempat atau dengan melompat.
9.   Memaha adalah memainkan bola dengan paha dalam usaha mengontrol bola. Memaha dapat digunakan untuk menahan dan menerima bola dari serangan lawan, atau untuk membentuk dan menyusun serangan.
10. Mendada adalah memainkan bola dengan dada, mendada dapat digunakan untuk mengontrol bola.
11. Membahu adalah memainkan bola dengan bagian badan antara batas lengan dengan leher, dalam usaha mempertahankan serangan dari pihak lawan. Membahu digunakan untuk bertahan dari serangan lawan yang mendadak (tiba-tiba) dimana pihak bertahan dalam keadaan terdesak dan dalam posisi yang kurang baik.
12. Smash adalah bentuk serangan yang mematikan dilakukan di atas net. Smash dalam permainan sepaktakraw merupakan teknik efektif dalam melakukan serangan terhadap pihak lawan, sehingga lawan tidak mampu untuk mengembalikannya.
Berpedoman dari uraian di atas, maka penguasaan teknik dasar dan teknik khusus dalam permainan sepaktakraw mutlak dimiliki oleh seorang pemain sepaktakraw, mangingat jenis olahraga ini membutuhkan permainan yang cepat, waktu memainkan bola sangat terbatas, sehingga teknik yang tidak sempurna akan memperoleh kesalahan yang lebih besar.
Berdasarkan uraian di atas, ternyata usaha untuk mencapai permainan yang sempurna dan mengharapkan kemajuan dari unsur teknik dasar dan teknik khusus yang baik, maka jalan keluarnya adalah melakukan kegiatan latihan yang kontinyu dan benar, karena latihan teknik yang dilakukan secara terus menerus akan berpengaruh sekali terhadap aspek fisiologis secara menyeluruh, seperti peningkatan otot, perbaikan teknik dan menciptakan efisiensi dan efektivitas gerakan yang dilakukan.

D.  Proses Belajar Mengajar Sepaktakraw
Prosedur belajar mengajar olahraga sepaktakraw tak dapat dipisahkan dengan proses belajar. Telah banyak pembahasan tentang pengertian belajar, khususnya dalam keterampilan berolahraga sebagai konsep tak terpisahkan dengan pokok-pokok istilah belajar, maka perlu juga dibahas tentang pengertian belajar menurut Rusli Lutan (1988:101)

Belajar merupakan taraf perubahan perilaku dalam keterampilan gerak seseorang, atau penguasaan gerakan yang kompleks tidak terjadi begitu saja, melainkan dengan melalui proses pengajaran, dimana proses merupakan kegiatan yang inti dan utama. Artinya bahwa pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.

Para ahli di bidang pendidikan dan psikologi telah memberikan makna tentang belajar sesuai dengan bidangnya masing-masing, antara lain Nasution (1986:39) menjelaskan bahwa belajar sebagai perubahan kelakuan berkat pengalaman dan latihan.
Sedangkan Rusli Lutan (1988:101) mengatakan, “Belajar dapat diartikan semacam seperangkat peristiwa, kejadian, atau perubahan yang terjadi apabila seseorang berlatih yang memungkinkan mereka semakin terampil dalam melaksanakan suatu kegiatan”. Belajar menurut Damiri (1992:52) yaitu, “Suatu proses yang dilakukan oleh seseorang atau seorang anak untuk meningkatkan atau mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotornya dirinya”.
Menyimak beberapa pendapat para ahli tentang belajar tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang relatif menetap, hal ini terjadi akibat latihan dan pengalaman belajar. Agar perilaku seseorang yang sedang belajar bersifat positif, maka segala pengalaman dan latihan yang dikondisikan baginya perlu diorganisasikan secara sengaja dan terencana. Usaha untuk mengorganisasikan pengalaman dan pelatihan tersebut sering dikatakan dengan istilah usaha mengajar. Berapa ahli memberikan pengertian tentang mengajar, namun secara umum kita memberikan makna bahwa guru dan murid berada dalam proses belajar mengajar. Guru berperan sebagai pengajar dan murid atau atlet sebagai subyek yang sedang menjalani proses belajar.
Pengertian belajar telah dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas. Namun pengertian pengajar belum jelas. Dalam hal ini Nasution (1986:8) mengtakan:

a.   Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak
b.   Menyampaikan kebudayaan pada anak
c.   Suatu aktifitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak, sehingga terjadi proses belajar.


Pendapat lain tentang mengajar dikemukakan oleh Damiri (1992:14) yaitu sebagai berikut:

Mengajar adalah suatu proses yang dilakukan seorang/guru atau kelompok orang/guru dalam rangka membantu meningkatkan atau mengembangkan kognitif, sikap, psikomotor para siswa. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang bersifat mendidik, membina, membimbing, membantu dan mengarahkan.


Berdasarkan pengertian tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mengajar pada dasarnya merupakan upaya menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Disini siswa akif belajar, sedangkan guru hanya membimbing, menunjukan jalan yang dihubungkan dengan kepribadian anak, serta membantu mengembangkan pengalaman dari aktifitas anak melalui perubahan situasi tertentu sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Rusli Lutan (1988:382) berpendapat bahwa

Mengajar dan melatih pada hakekatnya memiliki arti yang sama, perbedaannya terletak pada situasi, yaitu biasanya istilah mengajar dipakai dilingkungan sekolah dalam proses belajar mengajar olahraga pendidikan dan melatih biasanya dipakai dalam proses pembinaan olahraga prestasi.


Lebih lanjut Rusli Lutan (1988:382) mengemukakan tentang unsur-unsur pokok yang terdapat dalam proses belajar mengajar yaitu:

(1) Guru atau pelatih yang lebih berpengetahuan, pengalaman, dan terampil, (2) Siswa atau atlet yang sedang berkembang, (3) Informasi atau keterampilan, (4) Saluran atau metode penyampaian informasi/keterampilan, dan (respon) atau perubahan perilaku pada siswa/atlet.


Jadi, dasarnya kegiatan mengajar atau melatih merupakan seperangkat usaha dalam mengelola pengalaman belajar dan perilaku siswa dengan maksud agar para siswa dengan maksud agar para siswa aktif melaksanakan tugas-tugas sehingga terjadi perubahan. Dalam kegiatan olahraga, keaktifan para pelakunya akan nampak jelas teramati, misalnya dari jumlah frekuensi dan intensitas kerjanya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dikatakan bahwa hasil langsung yang utama dari belajar mengajar gerak yaitu utama dari belajar mengajar gerak yaitu perubahan perilaku yang bersifat psikomotor yang dapat ditafsirkan dari perubahan dalam penguasaan suatu keterampilan olahraga. Selanjutnya produk pengiringnya berhubungan dengan perubahan perilaku dari ketiga unsur tersebut berlangsung dalam kondisi internal secara utuh, artinya meskipun tekanan belajarnya adalah penguasaan suatu keterampilan gerak, tidak berarti unsur-unsur lain seperti domain afektif dan kognitif diabaikan.

E.  Pengaruh External Weight terhadap Peningkatan Kemampuan Smash dalam Permainan Sepaktakraw

Usaha meningkatkan prestasi cabang olahraga sepaktakraw, teknik merupakan suatu gerak kerja yang erat hubungannya dengan kemampuan gerak, kondisi fisik, taktik dan mental. Dengan banyaknya kontribusi gerakan di dalam aktifitasnya akan berpengaruh terhadap hasil yang dicapai melalui proses latihan untuk mendapatkan teknik yang sempurna. Usaha meraih prestasi olahraga tidak terlepas dari penguasaan teknik yang baik dan benar terutama teknik dasar dan teknik khusus dalam permainan sepaktakraw.
Penguasaan teknik dalam permainan sepaktakraw sangat penting dimiliki oleh seorang atlet mengingat permainan tersebut komplit sekali dengan kemampuan gerak, dan ini diakui oleh para pembina olahraga lain termasuk atlet sepaktakraw sendiri. Disini juga dilakukan gerakan-gerakan akrobatik dan berbahaya, diiringi pula unsur-unsur kecepatan, keluwesan, kelincahan, kekuatan, daya tahan dan eksplosive power.
Menurut Charsian Anwar (1999:24) menjelaskan, “Agar dapat menghasilkan smash yang akurat dan tajam, awalan, tolakan, sikap posisi badan saat melayang di atas dan sikap badan saat mendarat sangat penting untuk diperhatikan pada saat berlatih”. Smash dalam permainan sepaktakraw terdiri dari beberapa macam bantuk; smash gulung (salto), smash kedeng, smash gunting, smash lurus, dan smash telapak kaki.
1.   Smash Gulung
a.   Saat Awalan
Awalan harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah datangnya bola yang akan disepak (smash).
b.   Saat Tolakan
Tolakan harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian segera diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agak ke bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas secara eksplosif dengan bantuan kedua lengan.
c.   Saat Badan di Atas (Saat Smash)
Setelah menolakan kaki ke atas secara eksplosif dengan bantuan kedua lengan, badan berputar (berguling ke belakang) diikuti dengan kaki tumpu ditarik ke atas menjemput bola yang akan dipukul (smash). Smash dilakukan dengan punggung kaki.
d.   Saat Mendarat
Setelah melakukan pukulan (smash), kepala, badan dan tungkai berputar ke belakang bawah, dan mendarat dengan kedua kaki:


Gambar 2.2

Smash Gulung
2.   Smash Kedeng
a.   Saat Awalan
Awalan harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah datangnya bola yang akan disepak (smash).
b.   Saat Tolakan
Tolakan harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agar dalam ke bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas bagian dalam secara eksplosif dengan bantuan kedua lengan.
c.   Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah menolakan kaki ke arah atas secara eksplosif, luruskan tungkai serta putar badan (pinggul, punggung, bahu) ke arah dalam, kemudian lakukan smash dengan punggung kaki atau punggung kaki bagian luar, dibantu dengan putaran pinggul dan punggung.
d.   Saat Mendarat
Gerak ikutan dimulai dari tungkai, punggung, bahu dan lengan secara bersamaan berputar ke arah luar, kemudian tungkai ditarik ke bawah dan mendarat dengan kedua kaki dalam posisi siap
.
 

Gambar 2.3
Smash Kedeng
3.   Smash Lurus
a.   Saat Awalan
Awalan harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah datangnya bola yang akan disepak (smash).
b.   Saat Tolakan
Tolakan harus dimulai dengan bertumpu pada salah satu kaki terlebih dahulu, kemudian segera diikuti gerakan merendahkan badan dengan jalan menekuk lutut agak ke bawah. Kemudian tolakan kaki tumpu ke atas secara eksplosif dengan bantuan kedua lengan.
c.   Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah menolakan kaki ke atas secara eksplosif, secepatnya kaki tumpu menjemput bola, kemudian melakukan smash dengan punggung kaki.
d.   Saat Mendarat
Setelah melakukan pukulan (smash), tungkai diturunkan ke bawah dan mendarat dengan kedua kaki.
 
Gambar 2.4
Smash Lurus
4.   Smash Telapak Kaki
a.   Saat Awalan
Awalan harus dilakukan cepat dengan cara melangkah atau lari kecil menuju arah datangnya bola yang akan disepak (smash).
b.   Saat Tolakan
Tolakan dapat dilakukan dengan salah satu kaki tumpu dan kaki lainnya melakukan smash. Tolakan kaki tumpu juga sebagai kaki yang dipergunakan untuk membantu melakukan smash.
c.   Saat Badan di Atas (saat smash)
Setelah menolakan kaki ke atas secara eksplosif, badan tetap tegak lurus dan kaki yang hendak melakukan smash dengan cepat menjemput bola. Kemudian dengan telapak kaki yang dibantu lecutan dari pergelangan kaki, bola disepak (smash).
d.   Saat Mendarat
Setelah melakukan pukulan (smash), kepala, badan dan tungkai berputar ke belakang bawah, dan mendarat dengan kedua kaki.
 


Gambar 2.5
Smash Telapak Kaki
Melihat kemungkinan-kemungkinan seperti disebutkan di atas, maka setiap pemain sepaktakraw secara sadar harus berusaha untuk meingkatkan penguasaan teknik dasar dan teknik khusus, apalagi sepaktakraw semakin populer, hingga selayaknya olahraga tersebut dipelajari dan dikaji secara mendalam.
Sesuai dengan permasalahan inti dari penelitian ini, penulis akan memfokuskan kepada latihan kemampuan smash dengan menggunakan external weight, dengan menggunakan alat bantu berupa rompi yang berisi beban dengan ukuran beban yang akan dinaikan setahap demi setahap, dari beban yang paling rendah sampai beban yang maksimal.
Teknik pelaksanaannya adalah dengan cara naik turun pada balok yang telah disediakan yang berukuran 50 cm (step-up). Pertama-tama atlet berdiri di bawah balok yang telah disediakan, setelah mendengar aba-aba atau peluit baru testee melakukan step-up sebanyak-banyaknya dalam waktu 30 detik dengan beberapa kali pengulangan.
Berdasarkan hasil penghitungan uji-t pada kelompok A (eksperimen) diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,21 yang lebih besar dari nilai t-tabel pada taraf nyata (a) 0,05 dengan derajat kebebasan (dk) = 28 diperoleh sebesar 2,05. Dengan demikian hipotesis nol ditolak, artinya latihan smash dengan menggunakan external weight menunjukan adanya peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan smash dalam permainan sepaktakraw.
Demikian juga hasil penghitungan uji-t pada kelompok B (kontrol) diperoleh nilai t-hitung sebesar 1,19 yang lebih kecil dari nilai t-tabel pada taraf nyata (a) 0,05 dengan derajat kebebasan (dk) 28 diperoleh sebesar 2,05. Dengan demikian hipotesis nol diterima, artinya latihan smash tanpa menggunakan  external weight tidak menunjukan adanya peningkatan yang signifikan terhadap keterampilan smash dalam permainan sepaktakraw.





BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data yang penulis kemukakan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: latihan smash dengan menggunakan external weight terdapat pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan uji perbedaan dua rata-rata (Uji-t) antara kelompok A (Ekserimen) dan kelompok B (Kontrol), diperoleh nilai t-hitung sebesar 4,29 lebih dari t-tabel 2,05 pada paraf nyata ( ) = 0,05 dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash dengan menggunakan external weight memberikan pengaruh yang lebih efektif dibandingkan latihan tanpa menggunakan external wight terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.
Hasil penghitungan dan analisis data, bahwa kelompok B (Kontrol) diperoleh nilai t-hitung 1,19 lebih kecil dari t-tabel 2,05 pada taraf nyata ( ) = 0,05 dengan dk = 28. Dengan demikian latihan smash tanpa meggunakan external weight tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan smash dalam permainan sepaktakraw.




DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 1998. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.

Asril Bahar. 1997. Teknik Dasar dan Teknik Khusus Dalam Permainan Sepaktakraw. Jakarta : PB. Persetasi.

Charsian, Anwar. 1999. Mari Bermain Sepaktakraw. Jakarta : PB. Persetasi.

Engkos Kosasih. 1994. Olahraga Teknik dan Program Latihan. Semarang : Akademik Presindo.

Harsono. 1988. Coaching dan Aspek-aspek Psikologis dalam Choaching. Jakarta : CV. Tambak Kusumah.

Herman, Chaniago. 1997. Pendekatan Ilmiah Dalam Pembinaan Sepaktakraw. Jakarta : Dirjen PLSPO.

Mohamad. 1991. Olahraga Pilihan Sepaktakraw. Jakarta : Dirjen Pendidikan Tinggi Dipdikbud.

Muslim, Deni. 1999. Sepaktakraw. Jakarta : PB. Persetasi.

Nasution. 1987. Metode Research, Penelitian Ilmiah. Bandung : PT. Jemars.

Poerwadarminta, W.J.S. 1986. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : PN. Balai Pustaka.

Sudjana. 1992. Metode Statistika. Bandung : Tarsito.

Surakhmad, Winarno. 1990. Dasar dan Teknik, Reserch, Pengantar Metode Ilmiah. Bandung : Tarsito.

Yusup, Ucup. dkk. 2001. Pembelajaran Permainan Sepaktakraw, Pendekatan Keterampilan Taktis. Jakarta : Depdiknas.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar